Headphone Actor I



 Di dalam koridor yang remang-remang dan gelap. Aku berdiri, hanya ditemani oleh bayanganku


 

Sampai beberapa saat yang lalu, aku bisa mendengar siaran radio bocor dari headphone yang tergantung di leherku.

Sekarang yang bisa aku dengar hanyalah kebisingan. Itu saja, dan sesuatu yang menyerupai suara seseorang.

Sesuatu telah jelas berubah. Merasa khawatir, aku mencoba memakai headphoneku.

 

—Suara berderak yang terputus-putus perlahan, secara bertahap mulai membentuk ucapan yang samar.

Kedengarannya seperti konferensi pers yang diadakan oleh presiden suatu negara atau semacamnya.

Itu adalah suara yang dilebih-lebihkan, terpengaruh untuk tujuan bicara, dan juru bahasa seperti mesin tertinggal sedikit di belakang.

Statis membuat mendengarkan menjadi sulit, tetapi orang masih bisa membedakannya.

 

“…Dengan sangat menyesal …hari ini …Bumi akan …berakhir.”

 

Ketika suara itu berhenti, itu disambut dengan teriakan yang terus-menerus dan omong kosong yang tampaknya tidak berarti.

Bahkan melalui headphone, keputusasaan penonton yang meluap-luap dan panik terlihat sangat jelas.

 

Di luar jendela berwarna merah, sekawanan besar burung telah sepenuhnya menghalangi bulan sabit yang baru terbit dari langit ungu tua, seperti gerombolan semut hitam.

Melepaskan headphoneku dan melihat sekilas ke ruangan yang baru saja kutinggalkan, aku melihat video game yang ditinggalkan dan segunung panduan belajar, keduanya bersinar oranye dari matahari terbenam.

 

Apa yang harus kulakukan sampai sekarang?

Aku mendapat kesan bahwa aku sedang berbicara dengan seseorang sampai beberapa menit yang lalu, tetapi aku bahkan tidak dapat mengingat siapa.

 

“…Ini pasti semacam lelucon.”

 

Aku membisikkannya pada diriku sendiri, mencoba meyakinkan diriku sendiri, saat aku membuka salah satu jendela yang melapisi koridor. Aku disambut dengan sirene yang keras dan melengking, sesuatu yang belum pernah aku dengar sebelumnya, bersama dengan jeritan dan ocehan orang-orang.

Keriuhan terus tumbuh semakin keras, menyelimuti seluruh kota.

Bibirku bergetar saat gigiku saling bergesekan.

Aku sendirian.

Tidak ada yang tersisa di sini.

Dan sebelum waktu berjalan terlalu lama, aku akan pergi juga.

Denyut nadiku berpacu. Air mata mengalir di pipiku.

 

—Aku tidak ingin sendirian. Ini terlalu menakutkan.

 

Aku memasang kembali headphone tertutupku sekali lagi, untuk melarikan diri dari dunia yang ditelan ke dalam malapetaka terakhirnya, untuk mencoba melepaskan diri dari itu semua.

Radio sudah terputus. Yang tersisa sekarang hanyalah statis.

“…Sudah waktunya untuk menyerah. Semuanya…"

Saat aku membisikkannya, aku tiba-tiba berpikir bahwa aku baru saja mendengar sesuatu.

Menajamkan telingaku, aku menemukan itu adalah suara. Sebuah suara berbicara kepadaku.

—Lalu, dalam sekejap, aku menyadari.

Ini adalah suaraku. Tidak ada orang lain.

“Hei, bisakah kau mendengarku? Ada sesuatu yang masih harus kau lakukan sebelum pergi…Sesuatu yang harus kau katakan kepada dia*, yakan?”

 

Aku tidak bisa mengingat apa itu.

Tapi, untuk suatu alasan, aku merasa aku mengerti arti di balik peringatan itu.

 

“Ini akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku. Jika kau bisa melewati bukit itu, kau akan tahu apa yang kubicarakan, apakah kau mau atau tidak. Jika kau tetap di tempatmu berada, kau akan menghilang. Hey-"

Aku menyeka air mata yang mengancam akan mengalir di wajahku sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam.

 

“—Kau ingin bertahan, bukan begitu?”

 

Itu adalah hari dimana bumi berakhir.

Aku menginjakkan kakiku di atas tanah bergelombang sekeras yang aku bisa, tepat saat suaraku menuntunku.

(TN: Dia* disini merujuk pada laki-laki)

 

| Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya |

Komentar

Trending

Tales of Reincarnation in Maydare

Chapter 38 : Menuju ke Kaki Gunung

Chapter 122: Hukuman Apa?