61: Idle Talk: Monolog Mantan Dewa



— Aku ingin menghabiskan setiap hari seperti gadis normal lainnya.

Itu adalah kata-kata terakhir dari anak itu sebelum dia meninggal. Saat dia mengatakan itu, senyum lembut menyebar di wajahnya.

…Begitulah nasib gadis yang pernah dijauhi dan diadili sebagai penyihir.

Tentunya, hanya aku yang mengetahui keinginan terakhirnya.

Permintaan terakhir yang dia ucapkan saat dia meninggal di pelukanku.

Meskipun menjadi dewa, aku tidak mahakuasa.

Dengan demikian, aku tidak dapat melihat semua puluhan dan ribuan kehidupan yang lewat di depan mataku, atau memanipulasi trilyun siklus kehidupan. Jadi, aku menggerakkan prosesnya— tanpa sadar, acuh tak acuh.

Proses ini. Proses itu. Proses ini. Proses itu.

Seribu tahun yang berlalu hanya diisi dengan kekosongan.

Meskipun tidak ada di dunia ini, dewa mirip dengan roda gigi di mesin. Di dunia tanpa warna dan tanpa aroma, yang bisa kurenungkan hanyalah penyesalan yang kualami saat masih hidup, dan kehampaan serta omong kosong tak berarti yang kumiliki sekarang.

Bagaimana aku bisa menjadi dewa?

Aku, seorang pahlawan yang dipermalukan dan ternoda, sayangnya dipilih untuk menjadi dewa alih-alih memasuki samsara. Dengan demikian, jika waktuku sebagai dewa memiliki arti, maka jiwaku tidak layak untuk dikembalikan.

Yah, aku minta maaf tentang itu.

Nyawa yang diselamatkan oleh anak itu akan terukir dalam sejarah—bersamaan dengan penyesalanku selama 1500 tahun.

—Pada saat itu, aku melihat seorang gadis di belakangku.

Dia adalah gadis menyedihkan yang akan mati dalam 100 hari. Sepanjang hidupnya, yang dia miliki hanyalah 'tanggung jawabnya sebagai ratu masa depan.' Namun, gadis itu—yang memakai senyumnya seperti topeng, akhirnya akan ditusuk oleh pria yang akan dinikahinya.

Di hadapan gadis itu, inderaku yang tidak aktif secara bertahap dibangkitkan, tepat ketika seluruh tubuhku bergerak.

… Aah, kenapa kamu dibebani nasib seperti itu lagi?

Mengapa kamu menjalani kehidupan yang tidak bahagia lagi?

Kenapa—aku hanya bisa melihatmu mati?

Kesadaranku yang tenggelam muncul kembali—

—Setelah itu, aku tidak tahan untuk duduk diam dan menonton.

Rupanya, bahkan setelah 1500 tahun, aku masih belum berubah. Aku masih orang tolol terbesar dalam sejarah.

Sejak saat itu, aku masih belum berubah sedikit pun—aku masih membabi buta mengulurkan tangan untuk membantumu.

Sial, kenapa aku tidak mahakuasa meski menjadi dewa—!

Jika memang demikian—bahkan jika itu berarti mengorbankan dunia, aku akan menyelamatkan hidupmu. Namun, karena aku tidak bisa melakukan keajaiban seperti itu…

Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah bersikap sok benar dan munafik.

“—Kamu akan mati dalam seratus hari.”

Untuk membuatmu mengejar apa yang aku yakini sebagai kebahagiaan, aku melebih-lebihkan nasibmu.

Ah, betapa sombongnya diriku.

Bahkan keinginanku itu hanyalah kemunafikan.

Pertama-tama, setelah bereinkarnasi, dia sudah menjadi entitas yang sama sekali berbeda dari anak itu.

Ingatannya berbeda, bersama dengan keadaannya. Bahkan jika dia dilahirkan dengan jiwa yang sama, mereka adalah dua orang yang berbeda.

…Bagaimanapun juga, setelah melihat sosokmu yang kuat, bermartabat, dan bangga—

—Aku, yang berpura-pura menjadi dewa maha kuasa, jatuh cinta lagi dengan dirimu yang baru.

Gadis bernama Lelouche Elcage berdiri tegak dan cantik sampai saat dia dilahirkan kembali. Dia membungkuk dan menunjukkan senyum licik. Di balik senyumnya ada tekanan yang menarik. Kemudian, dia menyuruhku datang untuknya—

—Untukku, aku tidak punya alasan untuk menolak.

… Tapi apakah kamu menyadarinya?

Jika kamu dilahirkan kembali, kamu secara tidak sengaja akan kehilangan ingatanmu lagi. Oleh karena itu, bahkan janjimu itu mungkin berakhir terlupakan. Lagi pula, kamu akan memulai hidup yang berbeda dari Lelouche Elcage.

—Itulah sebabnya, bahkan jika kamu ingin melihatku lagi...

…Bahkan jika aku secara sewenang-wenang menjadi manusia karena aku mematuhi keinginanmu, dan kemudian aku pergi menemuimu—

—Kamu mungkin tidak mengingatku sama sekali.

Meskipun demikian, aku akan datang untukmu.

Bahkan jika kamu tidak mengingat apapun—tidak, ada kemungkinan aku juga akan melupakan diriku sendiri. Namun, aku pasti akan menemukanmu, dan membuat apa yang kamu inginkan untuk kami menjadi kenyataan.

Tetapi sebelum itu, aku memutuskan untuk melakukan sedikit jalan-jalan dan mengunjungi anak-anak yang kamu sayangi.

'Tapi itu Monolog Sendirianmu—!' kamu pasti akan mengatakan itu, yang akan pasti aku tertawakan.

Meskipun, di satu sisi, aku memang melihat semuanya. Yah, itu hanya untuk kepuasanku sendiri.

Secara umum, semua orang berakhir dengan bahagia.

Setelah menggambar banyak lukisan kakak perempuannya, adik laki-lakimu menjadi sorotan. Belakangan, ia menjadi pelukis ulung dengan kedudukan yang hampir sama dengan Andre Oscar. 'Lelouche's Smile'— begitulah nama mahakaryanya. Adapun orang tuamu, mereka berhubungan baik sampai akhir hidup mereka.

Lalu, tentang temanmu—

—apa, apakah kamu juga akan menganggap ini sebagai pemborosan waktumu?

Tidak tahan melihat pangeran kedua, yang sedang murung di sebuah bar sambil bersembunyi dari saudara laki-lakinya dan negara, aku membelikannya alkohol. Apakah kamu ingin tahu apa isi percakapan kami? Yah, kebanyakan aku membual tentang bagaimana wanita yang sudah lama kucintai mengaku padaku. Aku hanya bangga pada diriku sendiri.

Tapi entah kenapa (atau mungkin karena minuman yang kami bagikan…) dia agak pulih. Setelah itu, dia berkeliling dunia menggunakan bakat bawaannya dalam ilmu pedang dan karisma. Sepanjang jalan, ketika ancaman perang membayangi tanah airnya, dia diam-diam memanipulasi desas-desus untuk membantu pemerintahan saudaranya.

Karena itu, dia terkenal sebagai pahlawan. Padahal, dari sudut pandangnya sendiri, julukan itu sendiri terdengar mencela.

Meski demikian, berkat manuver rahasianya, masa pemerintahan Sazanjill Lukino Lapisenta menjadi era damai yang akan tercatat dalam sejarah. Kemudian, di dalam surat wasiat mantan ratu saat itu, dia menulis bahwa dia ingin memakai gelang kerang putih saat dibaringkan di peti matinya.

Hey, Lelouche.

Aku tahu dengan baik bahwa tidak ada keajaiban sejati yang ada di dunia ini. Meski begitu, jejak yang kamu tinggalkan terukir di dunia.

Meski begitu, apakah kamu masih akan melantur, menyebutnya sebagai Idle Monologue belaka?

***

Saat aku akhirnya bertemu denganmu, sudah saatnya kita jatuh cinta di tepi laut.

Satu-satunya alasan ingatanku tetap utuh adalah karena aku banyak berjuang. Itu adalah perjuangan yang berharga. Tentu saja, aku tidak sekeren dia. Selain itu, aku masih belum cukup percaya pada keajaiban untuk membiarkan takdir berjalan dengan sendirinya.

Di pantai berpasir putih, tempat ombak surut dan mengalir, aku pergi mencari kekasihku. Jika kamu bertanya kepadaku, "Siapa kau?" dengan tatapan dingin, aku bertanya-tanya akan seberapa kecewanya aku. Namun meski demikian, aku akan mengingatkanmu berulang kali.

Saat aku hendak berdiri, sebuah bayangan melebar di bawah langit biru. Orang yang bertanggung jawab untuk itu mengulurkan tangannya yang lembut kepadaku.


Seorang gadis mengenakan gaun putih bersih sederhana. Dengan rambut hitam menutupi telinganya, dia tersenyum padaku, terlihat lebih cantik dari siapapun—

"Pfft, aku sudah menunggu begitu lama, kau tau?"


Secara naluriah, aku merasa bersyukur terhadap keajaiban itu.

—Sekarang, sampai saat kita mati, mari kita nikmati masa depan kita yang paling menyenangkan bersama.





|Sebelumnya|Daftar isi|



Komentar

Trending

Tales of Reincarnation in Maydare

Chapter 38 : Menuju ke Kaki Gunung

Chapter 122: Hukuman Apa?