Chapter 2.1 Volume 1
Namun, aku masih menjadi anggota Klub Berkebun seminggu setelah Desember dimulai; itu karena Ayaka menangkapku sepulang sekolah setiap hari untuk kegiatan klub. Kenapa dia harus terus menggangguku? Aku bahkan tidak tahu, dan kupikir kepalaku akan pecah.
Karena aku tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang berkebun, aku masih selalu berpegangan pada pagar sambil menatap kosong ke jalanan seperti biasa. Hari itu, langit biru cerah membuntuti cakrawala. Hanya ada dua atau tiga awan di langit seperti stiker yang menempel di langit, menyilaukan siapa saja yang berani menatapnya untuk waktu yang lama.
Aku selalu ingin bertanya kepada Ayaka: "Kenapa kau mengatakan semua itu pada hari ketika dalam perjalanan pulang kita dari toko ramen?" Namun, karena aky tidak bisa memikirkan pertanyaan yang cocok untuk diajukan, aku hanya bisa terus melihat pemandangan di seberang pagar.
"Sungguh, kau harus benar-benar membantuku!"
Ayaka berkata sambil membusungkan pipinya dan memegang gunting yang digunakan untuk memangkas.
“…… Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa, dan bunganya sudah disiram.”
“Kalau begitu bantu aku menggunakan ampul di pohon, satu untuk setiap tanaman.” (TN: Ampul itu semacam wadah/bejana berbentuk botol kecil)
Ayaka menyerahkan pupuk ampul kepadaku. Ampul itu seperti sebotol kecil kecap yang dilengkapi dengan bento mewah tetapi bukannya kecap, itu memiliki cairan hijau kekuningan di dalamnya.
“Membuka ampul cukup sulit! Jika lubangnya terlalu besar, pupuk akan tumpah terlalu cepat; yang telah kubuka sebenarnya dilakukan dengan keterampilan tingkat profesional.”
Ayaka berkata dengan penuh kemenangan sambil menggunakan guntingnya untuk memotong sedikit ujung ampul.
"Aku akan bertugas memotong, sementara kau tinggal memasukkannya ke dalam pot."
"Aku benci bekerja."
Aku menggumamkan keluhan sambil membalikkan ampul untuk memasukkannya ke dalam panci.
“Kau mungkin tidak membenci bekerja. Hanya saja kau tidak bisa membayangkan dirimu bekerja!”
"Hime-sama, mengapa kau begitu tajam tentang hal-hal ini?" Aku menjadi bingung dan secara tidak sengaja melontarkan gelar kehormatan.
“Karena kakakku telah mengatakan hal serupa sebelumnya. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu mengapa kita harus bekerja jika kita ingin hidup, jadi dia meninggalkan sekolah ketika dia duduk di sekolah menengah. Dia bahkan tidak menemukan pekerjaan, dan hanya pergi ke sana kemari tanpa tujuan.”
Tidak tahu kenapa kita harus bekerja jika kita ingin hidup… Memang, aku juga merasakannya. Jika hari seperti itu menimpaku, apakah aku akan benar-benar menerima kenyataan bahwa aku perlu bekerja untuk melanjutkan hidup? Atau apakah aku akan menjadi salah satu orang di balik Hanamaru Ramen?
Aku bergidik, menyangkal imajinasi mengerikan tentang masa depanku, dan mengalihkan perhatianku untuk memasukkan ampul ke dalam pot. Itu sudah melewati musim berbunga; banyak daun dan cabang kering dapat ditemukan tergeletak di tanah. Sekarang adalah waktu untuk mempersiapkan musim berbunga berikutnya.
“Jika aku salah paham, aku minta maaf padamu sekarang terlebih dahulu. Tapi kupikir kau dan kakak laki-lakiku mungkin memiliki penyakit yang lebih buruk daripada membenci pekerjaan.”
“Eh?” Jadi ini penyakit?
“Misalnya, beberapa orang tidak suka makan wortel atau seledri ketika mereka masih kecil, tetapi mereka memakannya saat dewasa! Tetapi jika aku memberitahumu untuk makan sepatu bot atau berlian, itu tidak akan dapat dicapai sampai kapanpun. Ini bukan masalah suka atau benci: mereka tidak bisa dimakan bahkan sebagai orang dewasa.”
"Apakah kau bermaksud mengatakan: 'Aku tidak bisa membayangkan diriku makan wortel atau seledri,' bukan begitu?"
"Tepat."
“Analogimu membuatku merasa sedih.”
"Semangat!" Ayaka menepuk punggungku. Oh tolong, orang yang membuatku merasa sedih adalah kau sejak awal!
“Orang-orang di 'Hanamaru' sepertinya sangat menyukai Fujishima-kun, mungkin karena kalian mengeluarkan aura yang sama! Tetsu-senpai menyuruhku untuk membawamu ke sana lagi.”
“Aku sudah memutuskan untuk tidak pernah pergi ke sana lagi.” Jika aku terus pergi, aku pasti akan menjadi salah satu dari mereka cepat atau lambat.
"Tolong pergi! Semua orang menunggumu!”
Kualitas apa dalam diriku yang mereka kagumi? Aku hampir tidak pernah berbicara dengan orang lain dengan sukarela, jadi keterampilan sosialku sangat buruk!
“Kau tidak seintrovert armadillidium seperti yang kau kira!”
"Benarkah?" Aku tidak mengatakan bahwa aku seperti armadillidium.
"Itu benar, dan kau terus berbicara pada dirimu sendiri."
Aku tidak sengaja menempelkan ampul ke sepatuku.
"Apakah ...... Apakah aku sering berbicara sendiri?"
“Oh ya, kupikir itu sebabnya kau bisa berkomunikasi dengan mereka. Apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat mengerikan!”
Aku mungkin tidak akan bisa berfungsi lagi.
"Tetapi jika kau tidak mengungkapkan pikiranmu, tidak ada yang akan memahamimu!"
“Aku selalu lupa cara berkomunikasi.” Aku menjawab secara acak. Tetapi ketika aku memikirkannya, semuanya memang begitu. Ayaka menatapku sebentar, dan menghela nafas.
“Kalau begitu kau harus berlatih! Benarkan?"
Pada akhirnya, aku masih tidak bisa menolaknya, dan hanya bisa mengikuti Ayaka ke toko ramen. Hari itu, tidak ada orang di balik pintu dapur "Hanamaru". Meskipun sudah malam, tidak ada pelanggan di sana.
"Jadi kau di sini lagi, Narumi?"
Ekspresi terkejut muncul di wajah Min-san, dan dia berkata begitu sambil memotong kubis, menatapku juga. Seperti yang kulihat sebelumnya, dia mengenakan rompi sementara dadanya ditutupi dengan sarashi, penampilannya tampak seolah-olah orang dapat dengan mudah memanfaatkannya.
"Lupakan saja, kupikir kau akan berubah seperti itu terakhir kali kita bertemu."
“Ternyata bagaimana?”
“Masih belum terlambat!” Min-san mengatakan hal itu. Apa yang dia maksud dengan tidak terlambat?
“Jika kau melatih keterampilan komunikasimu, kau mungkin tidak akan menjadi NEET.”
Setelah mengatakan itu, Ayaka pergi ke dapur dan mengenakan celemek. Aku menghela napas, dan duduk di tangki bensin. Katakan apa pun yang kau inginkan!
"Oh ya, apakah kau ingin bekerja paruh waktu di sini juga, Fujishima-kun?"
Min-san segera menjawab: "Narumi sepertinya tidak tahu bagaimana melakukan apa pun, toko tidak membutuhkan orang seperti itu."
Dengan putus asa, aku mengambil sendok dan mengaduk es krim kopiku. Min-san mengambil mangkuk dan menjulurkan kepalanya keluar dari dapur.
"Itu benar, masih ada sesuatu yang bisa kau lakukan."
"Apa itu?"
"Bawa ini ke Alice."
Itu adalah Mie Dan Dan ala Jepang yang diisi dengan sayuran, tetapi kali ini, beberapa mie terlihat di lautan sayuran.
“Terakhir kali kau mengirimkannya, Alice memakan semuanya. Sebelumnya, dia biasanya tidak menyelesaikannya, jadi tolong bantu hari ini juga. Jika ada yang tersisa di mangkuk, aku akan menghajarmu!”
"Apa ini? Aku memesan Mie Dan Dan, tetapi tanpa mi, wortel, jamur, atau daging.”
Alice menggembungkan pipinya, menatap makanan di mangkuk dengan tidak senang.
Hari itu, AC di kantor detektif masih sangat dingin, tapi Alice hanya mengenakan piyama dengan boneka beruang di atasnya. Apa dia tidak akan kedinginan seperti ini?
“Tapi jelas ada mie, daging, dan lainnya di dalamnya! Tolong beri tahu aku alasan aku harus memakan ini.”
"Min-san khawatir kau akan kekurangan gizi."
“Oh, jadi ada standar gizi buruk? Kalau begitu tolong beri tahu aku tentang standarmu ini. Biarkan aku memperjelas ini, setelah hidup selama lebih dari sepuluh tahun hanya dengan Dr. Pepper, aku tidak akan mendengarkan alasan yang tidak masuk akal, dan jangan mencoba menggunakan alasan yang buruk untuk meyakinkanku. Aku akan menghilangkan argumenmu sepenuhnya.”
Aku menghela nafas. Aku tidak yakin apakah Alice seorang detektif atau bukan, tapi gadis kecil ini benar-benar punya banyak hal untuk dikatakan. Aku sudah tahu kalau aku tidak bisa meyakinkannya, jadi aku segera menggunakan teknik rahasia yang Min-san ajarkan padaku.
"Min-san bilang kau tidak bisa makan es krim jika kau tidak menghabiskannya."
Alice membeku, dan bibirnya mulai bergetar.
“…… Sangat-sangat tercela…… Menurut UU 222 KUHP, ini sudah bisa dianggap sebagai ancaman, dan melanggar hukum Persaingan karena menolak menjual juga.”
Alice yang berlinang air mata melambaikan tangannya, memvuat daftar satu demi satu hukum yang mencurigakan. Karena menurutku itu menarik, aku melihat tindakan Alice secara diam-diam untuk sementara waktu.
Dia mungkin menyerah, ya kan? Alice mengambil sumpitnya sambil cemberut.
“Ambilkan untukku Dr. Pepper! Tiga kaleng di antaranya!”
"Apakah kau ingin meminumnya setelah makan?"
“Aku ingin makan sambil minum! Bagaimana wortel dan daging bisa dimakan langsung?”
Alice, yang memegang kaleng merah tua di satu tangan sambil makan Mie Dan Dan dengan mata berkaca-kaca, benar-benar layak untuk ditonton.
"Berhenti mengamatiku!"
Alice dengan cepat menghabiskan kaleng Dr. Pepper pertamanya, mengambil kaleng kosong itu dan melemparkannya padaku, sementara aku hanya bisa menahan tawaku sambil memunggungi dia. Tapi Alice benar-benar pemilih makanan! Apakah dia benar-benar dari Bumi?
“Apa yang kau lakukan saat makan siang bernutrisi di sekolah? Apa kau tidak dimarahi?”
Aku tiba-tiba memikirkan hal itu dan bertanya pada Alice.
Alice terdiam beberapa saat, lalu dia menjawabku:
“Aku belum pernah ke sekolah.”
“Eh?”
"Meskipun aku tahu apa itu makan siang nutrisi, aku tidak pernah memasuki lembaga pendidikan mana pun sejak lahir."
Aky tidak berpikir bahwa Alice memiliki kehidupan yang normal, tetapi aku tidak akan pernah berpikir bahwa dia bahkan tidak bersekolah di sekolah dasar.
“Menurut Tetsu, NEET yang belum lulus sekolah dasar berada di level tertinggi di antara mereka semua. Hmph, aku sama sekali tidak tertarik dengan peringkat ini.”
Meski begitu, aku memiliki perasaan samar bahwa jika Alice pergi ke sekolah seperti orang lain, dia akan berpikir bahwa kehidupan normal juga sangat tidak menarik.
"Tidak ada hal seperti itu, aku tidak akan meremehkan hal-hal normal."
Aku terkejut dan membalikkan kepalaku. Sepertinya aku secara tidak sengaja mengucapkan pikiran batinku lagi.
“Aku sangat bertekad untuk menyelesaikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Meskipun aku membenci ketidaktahuan, itu sama sekali tidak relevan dengan kenormalan. Pergi ke sekolah adalah pengalaman yang tidak pernah kualami, dan itu juga yang kusesali. Tetapi ketika orang-orang yang seumuran denganku mengikuti pendidikan wajib, menurutmu apa yang kulakukan?”
Alice berhenti sejenak untuk memasukkan sepotong mie ke dalam mulutnya, membasahi wajahnya dan meneguknya dengan sedikit Dr. Pepper. Sepertinya dia meminta pendapatku.
“Belajar bagaimana menjadi istri yang baik?”
Alice hampir memuntahkan makanan dari mulutnya.
“…… Selera humormu memang membingungkan, tidak heran jika kau dikucilkan dari orang lain. Aku sangat kasihan padamu.”
Aku sekarang dikasihani, tapi apa yang Alice katakan adalah kebenaran.
"Jadi apa jawaban yang benar?"
“Eh? Ah, jawabannya adalah seperti yang kau lihat——membuka jendela di dunia jaringan, mengamati dunia yang terbatas dan terpelintir.”
Tatapan Alice jatuh pada mesin hitam yang menutupi seluruh dinding di belakangnya.
"…… Setiap hari?"
“'Setiap hari' yang kumaksud lebih buruk dari yang kau bayangkan. Hidupku hanya terdiri dari menyimpan informasi ke dalam tubuhku, dan membasuh ketidakberdayaanku dengan meminum Dr. Pepper. Aku terus mencari arti keberadaanku. Apakah kau tahu ini? Di Bumi, seorang anak meninggal karena kemiskinan setiap 3,6 detik, dan sebenarnya semua ini adalah 'salahku' .”
"…… Ah?"
Aku hanya bisa berseru kaget. Omong kosong apa yang dia semburkan?
“Ini murni masalah hipotetis. Dengar, jika aku memiliki cukup sumber daya dan cara untuk menghasilkan makanan, aku dapat menyelamatkan anak-anak yang kelaparan. Aky tidak khawatir tentang kemiskinan, dan aku bukan orang suci. Aku ulangi, ini murni masalah hipotetis. Jika aku memiliki kekuatan yang cukup, aku dapat menyelamatkan anak-anak yang sekarat secara bertahap, jadi kematian anak-anak itu karena aku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan mereka. Demikian pula, ketika sebuah pesawat disandera oleh teroris dan menabrak gedung, itu karena aku tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya; Kerugian yang ditimbulkan akibat gempa bumi atau tsunami adalah karena aku tidak memiliki kekuatan untuk memprediksinya.”
Murni masalah hipotetis.
Tapi kalau begitu, bukankah itu berarti semua yang terjadi adalah kesalahan Alice?
“Begitulah caraku melewati hari-hariku, menggunakan waktuku untuk mengkonfirmasi ketidakberdayaanku. Tepatnya, seharusnya sekitar delapan tahun atau lebih, ya kan? Aku ingin tahu apa yang dapat dilakukan oleh orang yang tidak berdaya sepertiku untuk dunia ini, misalnya, untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang mati tanpa harapan, atau aku tidak dapat melakukan apa pun untuk mereka sama sekali.”
Menggunakan delapan tahun. Ini terlalu bodoh.
“Karena aku merasakan keterbatasan, aku kabur dari rumah. Aku menyegel diriku di benteng baru, dan terus membuka jendela di dunia ini. Hehe, sebenarnya aku sekarang sedang dikejar oleh keluargaku, jadi aku tidak punya pilihan selain membuka jendela di dunia nyata.”
Alice tertawa mencela diri sendiri, dan melihat ke monitor kubik yang tak terhitung jumlahnya di sisi kanan tempat tidurnya. Meskipun monitornya kecil, aku tidak bisa melihat apa itu. Tidak sampai tirai 'Hanamura' muncul di monitor, aku menyadari bahwa itu adalah pemandangan di sekitar gedung. Ada enam video langsung yang diambil dari kamera pengintai, termasuk ruang antara gedung ini dan gedung berikutnya, dan juga interiornya.
“Dikejar…..?
“Karena orang-orang di keluargaku tidak bodoh, mereka mungkin sudah tahu di mana aku bersembunyi. Ini hanya sebagai tindakan pencegahan bagi mereka dari menggunakan metode yang tidak lazim untuk mencariku! Aku lari dari rumah, lari dari ketidakberdayaanku dan dari dunia yang berangsur-angsur hilang karena ketidakberdayaanku.......Tapi meski begitu, aku tidak bisa menemukan jawabannya, jadi........."
Aku menatap wajah Alice, terkejut.
Gadis ini serius, meskipun kupikir hal-hal yang dia katakan hanya lelucon.
“Jadi aku memilih untuk menjadi seorang detektif.”
“…… Maaf, kata-katamu membuatku bingung, aku tidak mengerti.”
“Kau tidak mengerti? Di dunia ini, hanya ada dua pekerjaan yang dapat membantu mereka yang meninggal atau kehilangan sesuatu, seorang novelis dan seorang detektif: Seorang novelis dapat menghidupkan mereka kembali dalam mimpi mereka, detektif dapat menggali pesan yang sebenarnya dari kubur mereka. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh para pemimpin agama, politisi, agen pemakaman, atau pemadam kebakaran.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Alice menundukkan kepalanya dalam kesepian, menggunakan sumpitnya untuk mengaduk-aduk makanan di mangkuknya.
“Tapi terkadang aku masih merasa agak mual. Seorang detektif hanya bisa mengambil tindakan pada hal-hal yang sudah hilang, bukan begitu? Mereka tidak dapat memecahkan hal-hal yang belum terjadi, atau menggali kuburan yang belum dibuat. Jadi untuk orang-orang yang mungkin terluka di masa depan, aku masih tidak berdaya.”
Setelah itu, Alice terdiam dan mengalihkan perhatiannya ke makanan yang tersisa di mangkuknya. Malu, aku berpaling darinya lagi. Suara Alice mengunyah kubis terdengar sedih, entah kenapa.
Setelah waktu yang sangat lama, Alice akhirnya membersihkan makanan di mangkuk. Aku diam-diam menyerahkan es krim vanila yang aku sembunyikan selama beberapa waktu, tapi Alice hanya meletakkannya di atas meja, bahkan tidak menyentuhnya, tapi mengangkat kepalanya untuk melihat wajahku.
"Eh ...... Apakah ada yang salah?"
"Tidak ada, aku hanya tak pernah membayangkan, mengapa aku akan memberitahumu begitu banyak."
Aku juga merasa bingung, tidak pernah aku berpikir bahwa Alice akan memberitahuku begitu banyak tentang dirinya sendiri, membuatku merasa sedikit khawatir tentang masa depan gadis berpiyama ini—— meskipun aku sama sekali tidak memenuhi syarat untuk mengkhawatirkan orang lain.
“Kau bisa memberitahuku apa yang kau pikirkan! Aku tidak keberatan."
"Oke." Meskipun aky ragu-ragu, aku tetap mengutarakan pikiranku dengan jujur, karena aku tahu betapa menyakitkannya kebohongan putih. "Apa yang kau katakan terlalu abstrak, aku sama sekali tidak tahu apa yang kau katakan."
Kupikir Alice akan melemparkan kaleng kosong kedua padaku, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak. Alice, dengan rambut hitam panjangnya yang menjadi sulit diatur, berkata sambil menyeka air mata di sudut matanya:
“Betapa menariknya dirimu. Hanya mendengarkan deskripsi Ayaka tentangmu, kupikir kau adalah orang yang putus asa! Sepertinya tidak begitu.”
“Ayaka…… mengatakan sesuatu tentangku padamu?”
“Hmph, jadi kau keberatan? Itu mengejutkan. Kupikir kau sama sekali tidak tertarik pada orang lain.”
Alice mulai tertawa nakal.
“Tentu saja aku tidak keberatan.” Aku hanya bisa membalas.
"Benarkah? Kalau begitu aku tidak punya alasan untuk memberitahumu.”
Aku menggigit bibir bawahku, menyadari bahwa aku mulai gelisah. Tentu saja aku keberatan bagaimana Ayaka melihatku. Seolah-olah dia telah melihat melalui pikiranku, Alice akhirnya menjawab.
“…… Ayaka bilang kau mirip dengan Toshi.”
“Toshi? Siapa itu?"
“Dia saudara Ayaka! Dia juga seorang anak putus sekolah yang selalu bergaul dengan Tetsu dan yang lainnya, tapi dia tidak ada di sini akhir-akhir ini. Yang mengingatkanku bahwa dia tidak berguna, tidak berbicara ketika dia dalam suasana hati yang buruk, selalu berbicara pada dirinya sendiri dan selalu memberikan masalah pada Ayaka, kualitas ini sangat mirip denganmu."
Apa yang dikatakan Alice benar-benar sudah berakhir. Ketika aku memikirkan situasi ketika Ayaka sedang menggambarkan kakaknya, perasaan rumit muncul di benakku. Jadi itu karena Ayaka mengkhawatirkanku, yang mirip dengan kakaknya, yang memaksanya untuk mengundangku ke Klub Berkebun? Mau tak mau aku berpikir bahwa hal-hal yang kupikirkan cukup konyol.
“Kau tidak perlu khawatir, kau tidak terlalu mirip, dan kau juga bukan NEET.” Alice berkata kepadaku, yang diam. “Toshi tidak keras kepala sepertimu, setidaknya……”
Alice tiba-tiba berhenti berbicara, matanya terpaku pada monitor di samping tempat tidurnya.
"…… Apakah ada masalah?"
“Yah, bicara tentang iblis. Ini Toshi.”
“Eh?”
"Kenapa dia keluar dari dalam?"
Mengikuti petunjuk Alice, aku menatap monitor, yang menunjukkan siluet kurus di kotak ketiga dari kanan. Lingkungan sekitar tangki bensin yang bisa dilihat di sudut kiri bawah layar difilmkan dari atas, di mana para NEET suka berkumpul. Siluet yang mengenakan hoodie biru tua berdiri di celah di antara gedung-gedung, bahkan tidak bergerak satu inci pun.
“Narumi, tangkap orang itu untukku. Dia mungkin hanya ingin kembali seperti ini.”
"Mengapa……"
“Karena Ayaka mengkhawatirkannya. Jangan tanya lagi, cepat saja!”
Ketika aku berjalan menuruni tangga, siluet itu berjalan lebih jauh ke dalam celah dengan punggung menghadapku. Aku mendorong bukit kantong sampah sambil berlari ke arahnya.
"Hey!"
Siluet yang mengenakan jaket olahraga bergetar sejenak, dan kemudian menoleh. Dia memiliki wajah kurus pucat, dan memiliki ekspresi gugup di balik kacamatanya yang berkeliaran di sana-sini. Jelas bahwa dia adalah kakak laki-laki Ayaka, karena mata mereka identik. Melihat dia sangat gugup, aku, yang awalnya ingin berbicara dengannya, tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan.
"Onii-Chan?"
Suara Ayaka terdengar di gang. Aku berbalik, dan melihat Ayaka, yang mengenakan celemek, menyodok setengah tubuhnya keluar dari dapur.
Kakak Ayaka —— Toshi menghela nafas, seolah-olah dia telah menyerah pada sesuatu.
"Kau bisa menelepon kami sebelum kau datang ke sini."
“Layanan teleponku telah dibatalkan karena aku tidak membayar.”
Ayaka menyeret Toshi keluar dari celah di antara gedung-gedung, dan diam-diam mengambil sejumlah uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepadanya. Whoa, ternyata sungguh ada saudara yang tidak berguna, aku hanya bisa berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Toshi, yang kembali ke toko ramen, duduk di tangga dan berkata ke arah dapur: “Min-san, beri aku es krim! aku kering.” Min-san, yang berjalan keluar dari dapur, mengerutkan alisnya, menatap Toshi dan berkata: “Kau mungkin makan makanan aneh lagi, bukan begitu? Jika kau makan makanan dingin, kau akan muntah.” Dia kembali ke dapur setelah mengatakan itu.
Ayaka berkata: “Onii-chan, tunggu aku sebentar, aku akan membuatkan sesuatu yang panas untuk kau makan.” Dan dia kembali ke dapur setelah mengatakan itu juga.
Toshi mendecakkan bibirnya, dan kemudian mengeluarkan kantong plastik kecil dari sakunya, memecah pil di dalam kantong plastik menjadi dua, menghancurkannya, menelannya tanpa minum air, dan kemudian menatapku setelah dia selesai memakan obat.
“Ayaka memberitahuku tentangmu beberapa waktu lalu, jadi kau berada di klub yang sama?”
Toshi akhirnya berkata kepadaku, dan aku mengangguk sedikit gugup.
“Oh benarkah, jadi kau Narumi.”
Aku berpikir, apa yang Ayaka katakan pada Toshi?
“Dia sangat bodoh, bersama dengannya itu sulit, bukan begitu?”
Aku menggelengkan kepalaku. Toshi menatap langit musim dingin yang penuh awan dan tertawa hampa, tawanya terasa seperti seseorang menggunakan tongkat logam dingin untuk menggaruk punggungnya.
Setelah itu percakapan kami terhenti. Toshi membungkukkan punggungnya, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jaket olahraganya. Matanya mengembara sambil mulai menggoyangkan kakinya. Aku diam-diam mengamati Toshi dari samping.
Apa dia benar-benar mirip denganku?
Entahlah, mungkinkah itu benar-benar mirip? Dia lebih tua dariku sekitar satu atau dua tahun, tetapi kulitnya tampak kering, kasar dan pucat. Tidak heran Ayaka akan mengkhawatirkannya.
"Oh? Betapa jarangnya kau muncul di sini!”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang kami. Aku menoleh, dan melihat Tetsu-senpai mengenakan T-shirt lengan pendek seperti biasa, Hiro-san mengenakan jaket kulit, sementara Mayor mengenakan apa yang tampak seperti pakaian untuk garnisun Siberia. Ketiganya berjalan ke celah di antara gedung-gedung bersama.
“Toshi, apa yang kau lakukan sebelum ini?”
"Tidak ada, aku hanya sibuk dengan banyak hal."
Menghadapi pertanyaan Tetsu-senpai, Toshi mengalihkan pandangannya dan menjawab secara misterius.
Tetsu-senpai menatapku dan kemudian menatap Toshi, dan berkata: “Narumi ada di sini lagi! Dengan begitu, ketiga anak putus sekolah semuanya ada di sini, NEET yang keluar dari sekolah menengah benar-benar yang terbaik!”
"Aku belum keluar, jangan kelompokkan aku dengan kalian!"
Keberatanku benar-benar diabaikan.
“Itu karena Tetsu-san mengatakan hal seperti ini, NEET yang menunggu akan meningkat! Kita tidak bisa menunggu sampai dia keluar, kita harus mencari cara agar dia keluar dengan sukarela!” “Orang yang lulus SMA, kau terlalu berisik! Mau berkelahi?” Mayor dan Tetsu-senpai mulai berdebat karena suatu alasan.
“Jarang ada Toshi di sini, karena kita sudah lama tidak pergi ke arcade, ayo pergi bersama!” Hiro-san menyarankan. “Aku belajar teknik rantai baru, dan bisa menggunakan teknik pembunuh baru, jadi aku bisa mengalahkan Toshi sekarang!”
“Eh, aku tidak mau, aiyo!”
Toshi tidak mau pergi, tapi tangannya dipegang oleh Tetsu-senpai, dan dipaksa untuk berdiri.
"Maukah kau ikut dengan kami, Narumi?"
"Ke mana?" Ayaka terbang keluar dari dapur dengan tergesa-gesa.
Hiro-san tersenyum dan berkata: "Arcade."
"Apakah Onii-chan pergi juga?"
“Ayo cepat pergi!”
Seolah-olah dia menemukan situasi yang merepotkan, Toshi memandang Ayaka sejenak dan kemudian dengan cepat berjalan ke jalan-jalan utama.

Komentar
Posting Komentar