Chapter 2.3 Volume 1



Keesokan harinya, aku berencana untuk melewatkan pelajaran kimia jam lima dan enam dan langsung pulang. Itu karena aku belum siap untuk berbicara dengan Ayaka sendirian.

Tapi ketika waktu istirahat dimulai, orang-orang di sekitar mulai datang dan mengobrol denganku, membuatku kehilangan kesempatan untuk melarikan diri dari kelas.

“Fujishima, aku melihatmu di arcade kemarin. Kau bersama Ichinomiya-senpai, ya kan?”

“Emm, hm?”

Akhir-akhir ini, teman sekelasku terus mengobrol denganku, tetapi aku masih belum terbiasa. Tepatnya, aku belum mengingat nama mereka, jadi aku merasa seperti melakukan kesalahan saat berbicara dengan mereka. Tapi aku tetap menjawab mereka:

“Apakah kau berbicara tentang Tetsu-senpai, mungkin? Apakah kalian mengenalnya?”

"Tentu saja, Ichinomiya-senpai sangat terkenal, aku pernah mendengar bahwa beberapa pusat tinju mencoba merekrutnya untuk tim mereka."

“Itu benar, dia adalah seseorang yang legendaris. Bukankah dia melakukan banyak hal hebat sebelum ini? Aku pernah mendengar bahwa alasan toilet guru olahraga diubah menjadi gudang adalah karena Ichinomiya-senpai merusaknya.”

“Dikatakan juga bahwa pintu belakang tetap tertutup karena Ichinomiya-senpai mendobraknya. Itu menjadi bengkok dan tidak bisa dibuka.”

"Kepala Sekolah botak karena Ichinomiya-senpai."

Te-Tetsu-senpai se-terkenal itu?

“Bagaimana kau bisa mengenal Ichinomiya-senpai, Fujishima?”

Itu karena……

“Apakah karena Ichinomiya-senpai selalu pergi ke tempat Ayaka bekerja paruh waktu? Bukankah itu benar?”

Gadis-gadis itu juga bergabung dalam percakapan.

“Itu toko ramen, ya kan? Aku pergi ke sana sekali.” “Penjaga toko itu sangat cantik.” "Benarkah? Aku ingin pergi lain kali.” "Apa itu rasanya enak?" “Es krim mereka adalah yang terbaik.” “Kenapa es krimnya enak? Bukankah itu toko ramen?”

Tapi Ayaka sebagai orang yang mereka bicarakan tidak mengatakan apa-apa, atau bergabung dalam percakapan. Teman sekelas kami mengabaikan Ayaka dan aku, mengobrol dengan gembira. Tepat ketika kami mulai gaduh, bel tanda jam pelajaran kelima berbunyi, dan guru Kimia masuk ke dalam kelas.

Itu menyebabkan diriku tidak bisa bolos kelas, jadi aku terpaksa tinggal sampai sekolah berakhir. Biasanya, Ayaka akan langsung menyeretku ke Klub Berkebun, tapi hari ini dia hanya menatapku sebentar, dan berjalan keluar kelas sambil mengenakan ban lengannya.

"Apakah kalian bertengkar?"

Pria yang duduk di depanku bertanya padaku dengan santai, dan aku menggelengkan kepalaku. Perhatian teman-teman sekelasku tertuju padaku. Jika aku pulang begitu saja, sepertinya suasananya akan semakin buruk. Aku terpaksa meninggalkan tasku di kelas dan pergi mencari Ayaka di halaman.

Ayaka memegang sekop sambil berjongkok di sisi taman. Aku duduk di atas batu bata di samping taman, mengamati tanaman yang kami rawat, karena aku tidak tahu harus berkata apa.

Orang yang berbicara lebih dulu adalah Ayaka.

"Kau masih tidak ingat nama teman sekelas kita, ya kan?"

"…… Bagaimana kau tahu?"

"Aku merasakannya dari caramu berbicara."

Tapi apakah ada masalah dengan itu?

“Tidak masalah jika kau tidak mengingat nama mereka, hanya saja kau terlihat sangat berhati-hati ketika berbicara dengan yang lain, seperti kau berbicara di dua sisi dinding bata. Kau juga seperti itu kemarin…… ”

Ayaka masih memikirkan apa yang terjadi kemarin...... Sebenarnya aku juga memikirkannya. Kata-kata yang Toshi katakan masih terngiang di telingaku.

“…… Kenapa kau begitu mencampuri urusanku? Apakah orang-orang yang tidak cocok dengan kehidupan sekolah itu merusak pemandangan?”

Setelah aku mengatakan itu, aku merasa bahwa aku sudah terlalu keras. Dari kemarin, aku telah mencoba untuk mengendalikan emosiku. Ayaka tampak tercengang, dengan rahang terbuka. Setelah sekitar tiga detik, dia tiba-tiba tersipu.

“Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”

Dia benar-benar bertanya kenapa.

"Aku hanya bisa berbicara dengan yang lain melalui dinding, apakah itu mengganggu siapa pun?"

"…… Itu menggangguku!"

Ayaka menjawab dengan wajah merah.

“…… Kau telah menggangguku!”

Nada bicara Ayaka menjadi keras, dan dia mengulanginya lagi. Dengan mulut setengah terbuka, aku hanya bisa menatap bibirnya dengan bingung. Apa yang sedang dia bicarakan? Apa yang dia lakukan dengan itu?

“Kau tidak perlu mengenal yang lain di kelas lebih baik, tetapi tidak bisakah kau menurunkan kewaspadaanmu ketika berbicara denganku? Itu membuatku merasa sangat kesepian.”

"…… Mengapa?"

"Mengapa? Kau bertanya mengapa? Apakah kau tidak tahu?”

Ayaka berdiri dan berkata dengan keras. Beberapa siswa di halaman mengalihkan pandangan mereka ke kami.

“Aku…..Eh? Ah, ke-kenapa?” Pikiranku yang kacau membuatku tampak seperti sedang mengoceh. Aku berdiri.

“…… Aku benar-benar tidak tahu!”

"Lupakan saja, tidak apa-apa jika kau tidak tahu."

Ayaka, yang wajahnya diwarnai merah matahari terbenam, menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Aku membeku, dan Ayaka mengambil tasnya yang ada di bangku di samping taman, berbalik dan lari.

"…… Tunggu!"

Aku tidak tahu kenapa aku ingin menggapai tangan Ayaka, tapi dia dengan kasar menghempaskan tanganku.

Bzzzzzzt.

Suara sesuatu yang robek terdengar keras. Seluruh tubuhku tiba-tiba menjadi dingin.

Sebuah benda kuning jatuh ke tanah.

Ban lengan Komite Berkebun telah menjadi kain kuning yang sobek.

"Ah……"

Ayaka berbalik, menggunakan tangannya untuk menutupi mulutnya, dan menundukkan kepalanya untuk melihat ban lengan untuk sementara waktu. Ketika aku mengambilnya untuk mengatakan sesuatu, Ayaka buru-buru berbalik dan lari, menghilang dari gerbang sekolah dalam sekejap.

Aku tertinggal. Aku berjongkok dan menjadi linglung di bawah sinar matahari musim dingin, memikirkan berulang kali tentang hal-hal yang baru saja dikatakan Ayaka. Aku memikirkannya berkali-kali, tetapi aku masih tidak dapat memahami alasan air mata Ayaka, dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Aku berdiri di sana sebentar, dan dengan pasrah mengambil sekop dan ban lengan. Aku awalnya berpikir bahwa Ayaka mungkin akan segera kembali, tetapi aku sebagai anggota Klub Berkebun harus tetap melakukan pekerjaanku. Tapi aku hanya tahu cara menyiram dan menyiangi, setelah aku selesai melakukannya, seolah-olah ada lubang di hatiku.

Sampai matahari terbenam, Ayaka masih belum kembali.

Aku berjalan ke lab komputer yang sudah lama tidak kumasuki, mencoba duduk di kursi dekat jendela, tetapi aku tidak dapat menemukan energi untuk menyalakan komputer. Jadi lab komputer yang hanya memiliki satu orang ini sebenarnya sepi.

Aku meletakkan ban lengan yang robek di atas meja. Mengapa? Mengapa Ayaka marah? Aku semakin marah memikirkannya. Dia bahkan tidak menjelaskan dengan benar tetapi mulai menangis, itu membuatku sakit kepala juga. Aku bahkan tidak tahu apakah itu salahku. Tidak, itu mungkin salahku. Jika aku tidak bisa terus diam, apa yang harus kulakukan?

Lalu aku memikirkan sesuatu.

Bukankah ini berarti aku telah kembali ke hari-hari ketika aku sendirian?

Tapi keheningan di ruangan itu mencekik. Aku tidak tahan, memasukkan ban lengan kembali ke saku milikku dan berjalan keluar dari laboratorium komputer.

*

Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku pergi ke stasiun sendirian. Di sekitar stasiun banyak sekali orang yang menunggu untuk menyeberang jalan, terkadang kerumunan orang berhamburan keluar seolah-olah pintu gerbang tiba-tiba terbuka.

Di jalan, ada orkestra suara knalpot, langkah kaki ratusan orang, orang-orang yang menjual ponsel dan musik lagu-lagu Natal. Berjalan di keramaian, punggung dan bahukubterus didorong, jadi aku hanya bisa terus berjalan dengan goyah. Tiba-tiba aku mendapat ilusi bahwa aku sendirian di tempat yang tandus di musim dingin.

Aku menggelengkan kepala, menyeberangi zebra cross dan pergi ke arcade di tengah jalan.

Aku ingat menggunakan beberapa koin untuk bermain, tetapi tidak begitu ingat permainan apa yang kumainkan. Setelah aku menghabiskan semua koin, aku duduk di kursi dengan punggung menghadap ke dinding dan menatap layar akhir permainan.

Sebelum aku bertemu Ayaka, bagaimana aku menghabiskan waktuku sendirian? Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, itu benar-benar luar biasa. Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf kepada Ayaka jika aku pergi ke toko ramen dan bertemu dengannya di sana, jadi aku hanya bisa tinggal di arcade sambil tertekan. Karena Ayaka bahkan tidak mau berbicara denganku.

Begitulah cara saya dengan lelah bersandar ke dinding, dan tidak pergi sampai arcade memainkan 'Goodnight Song'.


*

Sudah lewat tengah malam, jalan-jalan yang jauh dari stasiun sudah gelap gulita. Aku berjalan di dekat toko Hanamaru Ramen dan mengintip ke dalam toko dari antara gedung-gedung. Tirai sudah diturunkan, dan cahaya redup bisa terlihat samar di dapur yang gelap. Tidak ada orang lain selain Min-san, karena sudah waktunya toko tutup.

Apa yang kulakukan?

Aku berjongkok di samping AC untuk menyembunyikan diri. Semuanya sudah menjadi kacau. Aku benar-benar merasa seperti menggali lubang untuk bersembunyi di dalamnya. Ketika aku duduk, udara dingin melewati mantel tipisku. Mungkin sebaiknya aku tidur di sini saja? Aku mungkin bisa mati kedinginan seperti ini.

"Narumi, apa yang kau lakukan di sini?"

Tiba-tiba aku mendengar suara dari atasku. Terkejut, aku berdiri dan membenturkan kepalaku ke pipa knalpot. Rasa sakit itu membuatku melihat bintang.

"…… Itu menyakitkan."

"Apakah kau idiot……"

Ekspresi terkejut muncul di wajah Min-san.

"Bagaimana ......" Bagaimana kau tahu bahwa aku ada di sini?

“Alice meneleponku untuk mengatakan bahwa seseorang sedang berkeliaran di sini. Mengapa kau datang? Ayaka sudah pulang!”

"Ah……"

Itu kamera pengintai. Sungguh menyebalkan, membuang-buang mesin berteknologi tinggi ini di tempat yang tidak berguna ini. Aku tidak bisa menghadapi Min-san, tapi merasakan tatapannya padaku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk sesaat.

Akhirnya, aku mendengarnya menghela nafas.

"Apakah kau ingin memasuki toko? Ada beberapa hidangan baru untuk musim dingin.”

Aku mengangkat kepalaku. Min-san bahkan telah melepas rompinya, mengenakan celemek di bagian bawah tubuhnya, sementara hanya sarashi yang diikat di bagian atas tubuhnya.

Min-san memegang lenganku dan menyeretku ke dalam toko. Aku baru datang ke sini kemarin, tapi sekarang aku masih merasa bahwa bau di Toko Ramen Hanamaru sangat nostalgia. Panci besar yang digunakan untuk memasak sup di dapur masih dipanaskan, dengan asap putih mengepul darinya. Bahkan jika itu musim dingin, sup yang disiapkan untuk waktu yang lama akan tetap mengepul panas, bukan begitu? Hanya saja cara Min-san berpakaian: memperlihatkan perutnya, terlalu seksi untuk remaja sepertiku. Aku hanya bisa berpaling darinya.




Min-san mengambil dua cangkir kertas dan duduk di sampingku. Halo? Kau hanya mengenakan sarashi untuk tubuh bagian atasmu! Mengapa kau tidak setidaknya memakai kemeja? Aku berusaha sangat keras untuk tidak memandangnya dan memusatkan perhatianku pada es krim. Es krim kali ini ditaburi bubuk coklat. Makan hanya sesendok saja, aku bisa merasakan rasa manis keju dan aroma anggur jeruk, ini adalah rasa yang bahkan aku tahu.

"…… Tiramisu?"

“Itu benar, kadang-kadang aku akan mencoba membuat sesuatu yang mainstream juga. Apakah rasanya enak?"

Aku mengangguk. Dibandingkan dengan ramen di sini, mengatakan bahwa es krimnya enak bukan hanya sekadar sopan. Aku ingat tiramisu dalam bahasa Italia artinya 'beri aku tarikan', apakah perasaan depresiku terlihat jelas di wajahku? Aku tenggelam dalam pemikiran yang dalam, dan tanpa sengaja lidahku terpeleset.

“Kau bisa membuat es krim yang begitu enak, lalu mengapa kau membuka toko ramen?”

Ups!

Dengan hati-hati aku mengintip ekspresi Min-san, tapi hanya bisa melihat ekspresi melankolis di wajahnya.

“Toko ini awalnya milik ayahku.” Ekspresinya tiba-tiba kembali normal dan berkata: “Aku ingin membuka toko es krim, jadi aku magang di toko es krim. Tetapi suatu hari ayahku tiba-tiba menghilang tanpa jejak, jadi aku kembali untuk mewarisi toko."

“Jadi begitu……” Aku tidak tahu harus berkata apa, dan hanya bisa menundukkan kepalaku untuk meminta maaf. "Maaf, menanyakan pertanyaan aneh ini."

“Kau tidak perlu minta maaf.” Min-san berkata sambil tersenyum.

"Pernahkah kau berpikir untuk mengubah toko menjadi toko es krim?"

"Ya aku telah melakukannya. Tapi aku suka toko ini, pelanggan dan suasana di sini. Ini hanya hadir karena ini toko ramen. Jika aku merombak toko, ini akan hilang, jadi aku memilih untuk melanjutkan.”

Min-san melihat sekeliling toko yang gelap. Ada menu yang berlumuran minyak, tanda tangan seniman (mungkin) menempel di dinding, meja yang retak, dan langit-langit dan dinding dapur yang tua tapi dipoles cerah.

“Mereka yang tidak memiliki pekerjaan mengklaim bagian belakang toko ramen sebagai wilayah mereka, itu karena mereka tidak memiliki tempat lain untuk dituju. Aku tidak keberatan!"

Sambil mengatakan itu, Min-san menepuk celemeknya yang bertuliskan 'Hanamaru'. Ini adalah simbol toko dan toko adalah apa yang Min-san dapatkan karena menyerah pada mimpinya menjual es krim.

"Apakah begitu?"

Aku kembali memikirkan hal-hal yang tidak berarti, dan secara tidak sengaja berkata.

"Tapi ayahmu mungkin menghilang karena dia membenci toko ramen dan mungkin tidak ingin kau mewarisi toko ramen."

"Aku tahu."

Min-san menepuk pundakku dengan kasar sambil tertawa keras.

“Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan, aku hanya melakukannya karena akubmerasa ingin melakukannya, dan itu sudah cukup. Orang hidup dengan memaksa orang lain untuk menerima orang lain untuk menerima cara hidup mereka sendiri.”

Aku menatap kosong ke wajah Min-san.

“Kita bahkan tidak tahu apa yang mereka pikirkan, jadi kita hanya bisa berasumsi bahwa mereka sama dengan kita!”

...... Ah, jadi begitu.

Aku akhirnya mengerti alasan kemarahan Ayaka.

Dia sama denganku. Aku juga merasa tertekan dan marah karena Ayaka pergi tanpa berkata apa-apa.

Karena satu-satunya orang di sisiku adalah Ayaka.

Ayaka adalah satu-satunya orang yang berbicara denganku.

Mengapa aku baru tahu tentang masalah sederhana seperti itu sekarang? Kenapa sekarang?

Setelah keheningan yang lama, tiba-tiba aku menemukan bahwa dahiku berada di bahu telanjang Min-san, lalu aku buru-buru mundur.

"Ah, err ...... Jadi- maaf."

Min-san tertawa, menepuk kepalaku dengan lembut dan menunjukkan senyuman 'tidak apa-apa, tidak apa-apa'.

Hal-hal mungkin baik-baik saja sekarang, kan? Meskipun saya masih tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin karena sekarang saya lega, perut saya mulai keroncongan. Min-san tidak melewatkan itu.

“Ada ramen dengan rasa baru, mau coba?”

“Err….. Erm….” Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Sepertinya Min-san telah memperhatikan sesuatu, lalu dia menyipitkan mata saat mendekatiku.

“……Hmmm, aku merasa kau sering memberi tahu orang-orang tentang perasaanmu yang sebenarnya, jadi aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu.”

"Ah?" Apakah aku terlihat seperti orang seperti itu? Apakah aku sering berbicara sendiri?

“…… Bagaimana ramenku? Apakah mereka enak?”

Ekspresi Min-san menjadi sangat tulus. Tangannya memegang kedua tanganku, matanya yang basah menatapku genit, membuatku tidak bisa diam.

"Err……"

"Kau bisa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak akan memukulmu."

“Terkadang supnya terasa sedikit manis……”

"Kau bisa memberitahuku dengan jujur, apakah itu baik atau buruk?"

“Jika kau benar-benar ingin aku mengatakannya, tentu saja itu buruk. OuchItu menyakitkan, bukankah kau mengatakan kau tidak akan memukulku?”

"Diam, bodoh!"

Aku ditendang dari toko.

“AKU AKAN membuat sup yang akan membuatmu mengatakan bahwa itu enak dan membuatmu menangis, ingat itu!”

Seperti anak kecil yang meneriakiku, Min-san menutup pintu kisi-kisi. Aku adalah satu-satunya orang di bagian bawah gedung ini.

Akankah semuanya berjalan baik-baik saja bahkan sekarang? Bagaimana aku harus meminta maaf? 'Sederhana saja…..' Kata-kata Ayaka terngiang-ngiang di pikiranku. 'Berteriaklah ketika kau marah seperti yang lain, dan tertawalah ketika kau bahagia seperti yang lain, ungkapkan pikiranmu ketika kau menginginkan sesuatu, kau juga bisa melakukannya.'

Jika hal-hal itu sederhana, aku tidak akan berada di sini sekarang. Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku berpikir samar-samar sambil berjalan menuju jalan-jalan malam yang dingin.


*

Aku bolos kelas selama dua hari. Bukan karena aku sakit atau terluka. Meskipun aku sendiri berpikir bahwa ini bodoh, aku masih merasa: Aku tidak dapat menghadapi Ayaka sebelum aku siap secara mental.

Pada hari Jumat, aku pergi ke sekolah setelah itu berakhir. Aku belum pergi ke atap sepulang sekolah untuk beberapa waktu sekarang, tapi Ayaka tidak terlihat. Melintasi pagar dan melihat kampus, aku tidak bisa melihat Ayaka di taman.

Kupikir—— mungkin sudah terlambat, mungkin aku sudah kehilangan segalanya, tetapi masih berputar-putar secara lucu, mencoba menebus kesalahan. Mau bagaimana lagi, karena aku idiot.

Setelah merenung sebentar, aku memikirkan tempat yang belum kucari.

Rumah kaca berada di bagian dalam sekolah, dekat dengan dinding yang mengelilingi sekolah. Di sisi lain tembok adalah kuburan, jadi tidak banyak orang yang pergi ke sana. Memasuki Klub Berkebun selama sekitar satu bulan, ini masih pertama kalinya aku datang ke rumah kaca. Karena merawat tanaman rumah kaca membutuhkan keterampilan khusus, Ayaka selalu menanganinya sendiri.

Melalui kaca yang berkabut, aku hanya bisa samar-samar melihat tanaman hijau di dalamnya, interiornya seharusnya sebesar ruang kelas.

Ketika aku hendak mengulurkan tanganku ke pegangan kelas atas yang tidak berkarat, pintu terbuka dari dalam.

“…… Fujishima-kun?”

Tiba-tiba aku berhadapan dengan Ayaka, yang terlihat kaget setelah berteriak. Aku juga kaget, dan tidak bisa langsung menerima kenyataan bahwa Ayaka tiba-tiba muncul di depan mataku.

"A-Aku baru saja menyemprotkan herbisida ke dalam, jadi kau tidak bisa mendekatinya!"

Ayaka mendapatkan kembali ketenangannya dan mendorongku keluar dari rumah kaca di dekat peti.

"Kenapa kau datang kesini?"

Ayaka terdengar seperti dia masih marah.

“…… Yah, aku juga bagian dari Klub Berkebun.”

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi. Ini semua salahku, menyeretmu ke Klub Berkebun di luar keinginanmu. Mari kita menjadi anggota hantu di klub masing-masing.”

Ayaka berkata dengan marah, yang tidak sesuai dengan karakternya.

“……Itu tidak akan berhasil.”

Kataku dengan suara yang semakin kecil. Mungkin Ayaka tidak akan pernah memaafkanku lagi. Memikirkan hal ini, seluruh tubuhku menggigil.

"Mengapa? Bukankah kau ……. ”

“…… Jika hal-hal terus seperti ini, bukankah hal-hal yang telah kita lakukan dengan susah payah akan sia-sia?”

“——Eh?”

Aku mengeluarkan kantong plastik dari sakuku, mengeluarkan salah satunya dan memasukkannya ke tangannya. Dia membuka tangannya dan mengangkatnya setinggi mata. Itu adalah sepotong kain hitam —— sebuah ban lengan, dan di atasnya tercetak bentuk bulat berwarna oranye.

Ayaka menatap ban lengan untuk sementara waktu, dan mengangkat kepalanya.

“…… Mesum, Menolak, Mesin?” (TN: Mesum: Chikan, Menolak: Genkitai, Machine: Mesin, disingkat CGM, itu tulisan di ban lengan)

"Kupikir lebih baik jika kau mengembalikannya kepadaku!"

"Whoa, aku hanya bercanda, maaf."

“Kau membacanya dari huruf tengah —— Klub Berkebun SMA M.

“…… Itu berarti kita, ya kan?”




Aku mengalihkan pandanganku dan mengangguk. Ekspresi wajah Ayaka mengalami perubahan yang rumit, terlihat seperti sedang menangis dan tertawa.

“Bagaimana kau membuat ini? Itu bukan karena kau ingin membuat ini sehingga kau mengambil cuti dua hari, ya kan?”

“Ya, saya mendesainnya menggunakan komputer, dan membuatnya di toko.”

Ayaka tampak lega. Dia dengan hati-hati mengenakan ban lengan dan kemudian menunjukkannya kepadaku; ekspresi kakunya berangsur-angsur hilang juga.

Ayaka melihat kantong plastik di tasku dan berkata: "Apakah kau juga membuatnya untuk dirimu sendiri?"

"Ya, kau harus memesan setidaknya sepuluh jika kau ingin membuatnya di sana."

Aku memikirkan banyak hal sebagai permintaan maaf, tapi pikiranku kosong sekarang.

"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau seburuk itu dalam bernegosiasi dengan orang lain."

Ayaka tertawa senang, sementara aku benar-benar malu, dan hanya bisa menundukkan kepalaku.

"Tapi kau membuat ban kapten untukku, aku sangat senang."

Dia berkata padaku. Aku mengangkat kepalaku, dengan kikuk membalas senyumannya dan berkata dengan suaraku yang terdengar seperti akan menghilang setiap saat: “Eh, maaf……” Itu yang terbaik yang bisa kulakukan saat itu.

“Hey, ayo buat yang lebih besar! Seperti bendera atau semacamnya. Kita bisa menggunakannya selama festival sekolah untuk lomba estafet klub.”

Lalu siapa yang akan ambil bagian? Hanya ada dua orang di klub.

“Itu benar, kita bisa membuat halaman web! Kita bisa membiarkan logo ini tampil di website. Apakah kau tahu bagaimana melakukan hal-hal ini?”

Apa yang bisa kau pasang di situs web? Tapi aku tidak punya cukup waktu untuk menjawab sebelum Ayaka melanjutkan: “Kalau begitu aku akan meminjam kunci ke atap!” dan kemudian melarikan diri.

Sambil melihat siluetnya, aku berpikir: tidak apa-apa jika hal-hal berjala seperti ini.

Aku mungkin canggung, tetapi, itu tak masalah jika aku melakukan hal-hal yang kutahu bagaimana melakukannya sedikit demi sedikit.


*

Tapi semua ini sudah terlambat. Di tempat yang tidak aku ketahui, dunia kecilku diam-diam tetapi benar-benar pasti, terkorosi oleh narkotika. Di sudut koran sore malam itu, ada laporan kematian seorang pemuda yang dikirim ke rumah sakit karena overdosis obat.

Insiden 'Angel Fix' mengacaukan hidupku yang berumur enam belas tahun di musim dingin itu, dan orang pertama yang meninggal dalam insiden itu adalah orang itu.




|Sebelumnya|Daftar isi|Selanjutnya|

Komentar

Trending

Tales of Reincarnation in Maydare

Chapter 103 : Akhir Dari Kencan

Chapter 38 : Menuju ke Kaki Gunung